Untuk Si Pecinta Hujan

sayang... maaf harus kukatakan..tidak semua orang mencintamu. Bahkan mungkin mutiara hatimu membentuk lubang luka dihidupmu.. inipun bukan akhir segalanya! Masih banyak hati yg menanti cintamu

JALANG

Cinta tak bisa hanya menjadi sebuah sumpah yang tertulis dengan titik-titik darah tanpa tindak nyata, saat tuturmu janjikan cinta maka bergeraklah, sebelum bekumu mengubah semuanya menjadi titik-titik hambar, cikal bakal sebuah bara besar yang akan menghancurkanmu atau orang yang kau cintai.

Karena Cinta Tak Butuh Alasan Bang...

Kau memang bukan cinta pertamaku,Tapi maaf, aku bukan perempuan pemuja cinta pertama, tapi aku mencari cinta sejatiku. Dan itu kamu...

Catatan Harian Seorang Perempuan Simpanan

Aku Perempuan yang kau simpan diujung hatimu, dengan lentera kecil yang hampir padam,nadi sayang yang makin melemah tanpa kau ijinkan mendengar keluhmu atau berbagi bahagiamu...

Papi-Mommy Ijinkan aku Masturbasi Malam Ini

Lala... pemuda romantis dengan sejuta sajak cinta. Aku sering mabuk dengan semua romantismenya. Mendadak aku merasa cukup dewasa untuk mencicipi aroma kama sutra. Bau tubuhnya... gerakan badannya.... Kerling matanya bahkan suaranya membiusku ke alam lain...

Monday, October 31, 2011

Pelacur Jalang!



ooooooo... jalang

mari... setubuhi aku

berapa lama kau mau??? ?

semalam dalam dekapku?! akan kusambut dengan desah dan gelinjangku

buang saja hasratmu jalang!!

lepas saja lenguh rontamu

mengigillah diatas tubuhku

biarkan lendirmu penuhi ragaku

tuntas! puas!

hahaha.. aku.. aku memang pelacur

tempat lendir anyir kau buang dalam kubangku!

sekarang kau cerca aku pendosa liar

bahkan... aku layak kau lempar bak anjing kudis pinggir jalan

baru semalam kau jelajahi kelangkangku, sekarang kau teriakkan aku sampah!!

Untuk sepotong cinta




Tak tahu harus kutulis tentang apa, sudah lama jari ini tak bermain kata, sudah lama rasa ini terlalu sibuk dengan sebuah ego, tak mampu lagi berbagi. Raga ini masih lemah kantung-kantung darah itu baru saja menjadi santap siangku. Tapi nurani ini ingatkan sebuah senyum, aah... bukan hanya sebuah.. tapi banyak senyum, senyum yang setiap pagi aku lihat saat tubuh ini baru saja menggeliat bersama kantung-kantung embun pagi, seperti pasar pagi.. dengan riuh aktivitas. Sudah genap 1 tahun usia RANGKAT. Pertanyaan dalam hatiku.. seberapa besar rasa syukur itu punya tempat dihatiku.. atas semua nikmat ini,

Aku Jingga, berawal dari gadis angkuh yang tak mengenal kata PEDULI, tak kenal kata BERBAGI, buta dengan RAGAM WARNA, yang mampu aku cerna adalah aku dan dunia kecilku. mereka yang tak sewarna denganku jahat dan bisa sewaktu-waktu mengulitiku. Aku seorang Jingga yang terlalu angkuh untuk duduk mendengar keluh.

RANGKAT yang mengajar ku memahami sebuah kehangatan, disini aku mampu berbagi pelukan, melihat senyum-senyum tulus, melihat tiap titik air mata, merasakan genangan kemarahan, mengecap arti kata lelah dari sebuah perjalanan, hahaha.... disini juga awal aku rasakan apa artinya jatuh cinta, riak-riak rindu yang selalu bermain tiap detik, getar-getar rasa saat ku baca barisan aksaranya, arti kata gelisah menanti sebuah jawab, dan kata Patah saat sadar dia tak pernah berada dititik yang sama denganku, "Menanti hingga menyerah" kalimat yang selalu aku gunakan untuk bercanda, disini baru aku tahu makna kata itu..

haiii.... sekseeeehhh....


hai seeekseeehh....

bodoh aja jika mataku tak melirik....

gayamu menarik bikin makin asik...

senyummu manis gulali....

ahaaaaaayyy..... wajah garang hanya didepan terpampang

hatimu lembut penuh sayang..... namun Tak Melambai!!

siapa tak tertantang jadi seorang yang kau sayang???

hahahahahhaaha.... abang sayang... mari kita berdendang biar saja Bunda nikmati senja terbentang..

abang disini berbagi sayang... hanya untuk jingga seorang...

ahhhaaayyy... bunda Selsa.. bunda RT tersayang... maaf... selingkuhi abang yang bunda sayang...


Sunday, October 30, 2011

Mas Hans!! Jingga kangeen... sangat!!

1319798955758531841

sayang....

Tahu kah kau... kau telah melukai ku terlalu dalam...

Bukan... ini bukan bentuk salah mu, kau pemuda gagah dengan ratusan bintang di harimu...

aku terlalu sederhana dalam gemerlap hidupmu...

kasutku titian hati dari sebuah pengabdian...

langkahku... hanya langkah-langkah kecil yang masih belajar iringi derap gagahmu, aku sering jatuh, lutut dan tanganku terluka berdarah...

namun inilah aku... aku akan tersenyum melihat semua luka dan darah anyir menusuk hidung...

hanya tersenyum... tanpa satu kata sesal! Tanpa satu kata sesal! biarkan luka ini... asal ijin iringi langkahmu tak pernah kau rampas dari hariku...

haaii... terkadang ada bara kemarahan kau simpan di mata elangmu...

aku gemetar takut dipojok pintu...

bara itu hanya akan padam saat ratusan balok-balok es bekukan hati mu...

aku... aku mengigil dingin dalam bekumu...

Jalang





Rasanya dada ini masih sesak. Kisah cintaku terlalu kelam untuk diingat. Tak mampu aku menepis semua bayang-bayang luka yang tertoreh. Padahal, seluruh jaringan di otakku sudah tak mampu menahan golakan kisah yang membuatku mual. Aku sudah ratusan kali berjalan dengan kaki yang pasrah, melentur mengikuti kemana arah angin, tak menolak tak menghindar tapi tetap saja aku terseok dan patah. Seperti ada lilitan tali besar di leherku, sungguh mencekik tak mampu mendesah.

Namaku Lintang Arum, aku perempuan 45 tahun. Aku punya cerita usang yang terjadi 2 tahun yang lalu. Tapi kisah itu benar-benar menghancurkan duniaku. Cinta… sekali lagi cinta yang menghancurkanku. Cinta di usia senja membuatku terlena dan lupa segalanya. Kekasihku masih sangat muda, dia baru berusia 25 tahun. Laki-laki gagah dengan kulit coklat terbakar matahari. Sikapnya yang selalu berusaha melindungiku membuatku nyaman bersembunyi di balik punggungnya, apa yang aku butuhkan dari sosok laki-laki dewasa semua ada pada jiwa mudanya. “Abi…” panggilan mesraku untuknya.

Abi… aku tak tahu harus bersyukur pernah mengecap cintanya atau harus mengutuknya. Aku tak pernah berpikir untuk mengenalnya. Kami berkenalan saat aku ada di titik kering. Mengapa ku sebut titik kering?? Karena lelakiku tak pernah mengerti sisi perempuanku. Yang dia tahu hanya EGO untuk ikuti semua yang dia mau, hanya EGO untuk jalani semua peraturan dan pintanya, saat aku butuhkan peluk sayangnya dia hanya laki-laki batu yang katakan tak ada waktu untukku bermanja. Saat keluhku sampai diujung lidah, dia hanya jawab tak pernah mau ikut campur dengan duniaku. Lelah yang teramat sangat itu yang membuatku goyah. Salahkah aku dengan semua perselingkuhanku?? Aahhhh…. Dimata semua orang pasti aku perempuan kotor yang tak mengerti kata kesetiaan, mengertikah mereka gersangnya jiwaku?? Mengertikah mereka bagaimana kosongnya batinku?? Aku hanya rindukan dada bidang untukku bersandar, Aku hanya butuhkan punggung tempatku bersembunyi saat dunia begitu menakutkan bagiku.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More