 |
| Gambar ilustrasi dari ; https://intranet.landmark.edu/counseling/images/r.jpg |
"Bahkan Oleh seorang Pendosa sepertiku, kidung doa tetaplah memiliki kekuatan jawaban"
Suatu hari aku pernah berdoa untuk sebuah keinginan yang sangat membuatku gelisah. Antara ingin dan segumpal ketakutan. Antara ketagihan dan keinginan lepas.
Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta, Mungkin….
Karena aku sendiri tidak pernah tahu pasti, apakah benar ini “jatuh” cinta.
Yang pasti saat itu aku, yang mulai kembali belajar menggunakan lututku untuk berdoa, aku coba bicarakan itu dengan Tuhan…
Kurang lebih doanya seperti ini “Tuhan, jika memang dia yang terbaik untuk hidup hamba, biarkan semua alur hari menjadi benih yang akan semikan rasa itu dalam hati kami, tapi jika dia bukan yang terbaik untuk hamba dan hamba juga demikian adanya untuknya tolong beri hamba tanda agar mata hati hamba tidak buta, batin hamba tidak tuli mengenali kehendak MU” setelahnya seperti setiap doa yang orang lain lakukan selalu aku tutup dengan kata AMIN.
Kata AMIN yang aku pernah belajar menurut imanku artinya “Ya. Aku percaya”