Thursday, November 18, 2021

Cerita Mistis Bali. Jangan lakukan hal ini di Bali jika anda ingin selamat.

 


Cerita mistis bali datang dari seorang cenayang di bali, beliau menceritakan kepada saya cerita mistis Bali, untuk mempermudah cerita, maka saya akan menggunakan bahasa “saya” dan menggunakan nama Nyai Sampur.

 

Sebut saja saya  Nyai Sampur, cenayang yang selalu setia dengan aroma kretek, jatuh cinta pada wewangian dupa dan kembang kantil.

Cerita mistis Bali akan saya mulai saat saya mendapat telpon dari seorang teman dari Kuta sedangkan saya sendiri tinggal di Gianyar Bali.

“Nyai, bisa minta tolong ada tamu dari Jawa kesurupan sudah tiga hari, tubuhnya terbanting kebawah, kadang kejang, dia di hotel daerah kuta. Minta tolong nyai, ini kami sudah tidak tahu harus bagaimana”

“ok besok kalian bawa kesini saja” jawab saya.

“malam ini nyai, kondisi anak ini sudah lemah banget, daritadi tubuhnya kejang”

“Sudah jam dua belas tengah malam ini, besok saja apa ga bisa?” saya masih berusaha tidak malam ini, karena saya tinggal di perumahan, ga etis terima tamu tengah malam.

“Ga bisa Nyai, besok sore dia sudah harus balik ke Surabaya, malam ini kami bawa ke rumah nyai please…”

“Ok…. Cari bungkak gading dan canang saya tunggu di rumah”

 

Cerita mistis Bali memang banyak dan beragam tetapi kebanyakan karena tamu atau wisatawan yang datang yang kurang mengerti adab dan menghormati area suci umat Hindu Bali. Saya sudah tidak terkejut jika tiba tiba ada wisatawan kesurupan atau mendadak sakit tanpa sebab. Bahkan lebih sering kesal. Mengapa tata krama tidak di pakai. Kita bertamu di daerah baru sewajarnya hormati adab dan budaya setempat.

Bungkak gading itu apa? Kalau di Jawa biasa di sebut cengkir gading ( buah kelapa muda, biasanya kecil dan berwarna kuning keemasan)

 

Cerita mistis Bali.  Setelah menunggu hampir satu jam, sebuah mobil  sudah parkir di depan rumah, ternyata berisi lima orang. Dan yang kesurupan seorang pemuda yang cukup belia kisaran usia dua puluh lima tahun. Kondisinya sudah benar benar tidak terkontrol, di dalam mobil tubuhnya bisa melenting ke belakang, bola matanya sudah tidak terlihat, hanya tampak putihnya saja. Pemuda ini sebut saja namanya Andy.  Harus di gendong empat orang yang lain untuk bisa masuk ke dalam rumah.

 

“Tidurkan dilantai saja, jangan di sofa. Kasihan kalau terbanting” ucap saya.

Andy yang di geletakkan di lantai rumah saya, sebentar mengeram, sebentar teriak, sebentar mengangkat tubuhnya sendiri lalu membanting diri. Mengerikan! Sementara saya menyalakan dupa dan menyiapkan ubo rampe yang lain. Saat aroma dupa mulai menguasai ruangan suasana mistis semakin mencekam.

Latar belakang saya yang cenayang Jawa maka saya gunakan cara Jawa untuk menolong Andy. Saya nyalakan gending macopat, gending kuno kesukaan “Ibu” yang selama ini mendampingi saya. Sementara saya duduk disamping Andy yang entah jiwanya sendiri dimana, yang pasti yang di dalam tubuhnya entah siapa. Saya nyalakan kretek dan mulai menghisap kretek di tangan saya dibarengi dengan aroma dupa dan gending Jawa kuno. Saya coba berkomunikasi dengan roh yang ada dalam tubuh Andy.

“Permisi jero, Jero ini siapa? Kasihan anak ini sudah tidak kuat, bisakah jero memaafkan dan meninggalkan tubuh anak ini?” ucap saya.

“apa syarat dari Jero, biar anak ini bebas?” tanya saya beruntun

Saya mencoba berkomunikasi cukup panjang dengan roh dalam tubuh Andy. Setelah hampir satu jam baru roh ini mengatakan bahwa beliau tidak minta apapun, bersedia meninggalkan tubuh Andy lepas jam empat pagi, dengan syarat jam sepuluh pagi Andy sudah harus keluar dari tanah Bali.

 

Saya tanyakan ke temannya. Apa sanggup? Tiketnya ada atau tidak, kalau tiketnya sore, sekarang juga cari tiket pulang ke Surabaya jika mau temannya selamat. Temannya menyanggupi. Karena ini bukan weekend pasti bisa beli tiket mendadak di bandara.

 

Sambil menunggu jam empat pagi, saya ngobrol dengan temannya sebut saja namanya Hari. Lalu hari menceritakan bahwa sebelum kesurupan, mereka jalan jalan ke Tanah Lot, seperti yang kita tahu di tanah lot ada tempat suci untuk masyarakat Hindu Bali. Sebuah gua di pantai yang biasa dipakai melukat atau pembersihan diri bagi umat Hindu Bali. Andy ini sempat ikut ritual melukat disana, setelah melukat dia merasa ingin buang air kecil. Dan dia buang air kecil di area yang disucikan itu.

 

Saya tanya “mengapa tidak menjauh?”

“udah ga tahan, dia kira ga ada yang lihat juga kan, dia pura pura duduk di air lautnya”

“Jangan main main dengan apapun di Bali, boleh beda keyakinan tetapi tetap harus menghormati satu sama lain jika ingin selamat dan happy berlibur di Bali, Bali ini indah dan ramah selama kita menjunjung adab dan menghormati budaya dan kepercayaan disini” jawab saya.

 

Tepat jam empat pagi kesadaran Andy pulih. Saat dia sudah benar benar sadar, yang dia minta Cuma makan. Lapar katanya. Setelah saya beri makan dan istirahat sebentar saya minta mereka segera ke bandara, sebelum waktu yang ditentukan habis.

 

Masih ingin “main main” dengan tanah Bali??

Salam damai semesta.

 

 


Cerita Mistis Bali. Sakralnya Pemujaan Ratu Ayu Mas Subandar

 



Saya akan mencoba menulis cerita mistis Bali dengan kapasitas saya yang bukan penduduk asli Bali, hanya kebetulan saya tinggal di Bali dan bergaul dengan masyarakat asli Bali sejak tahun 1998.

 

Cerita mistis ini dilatar belakangi PURA DALEM BALINGKANG, Pura yang sangat sakral tempat sembayang masyarakat Hindu Bali. Dimana di dalam Pura suci ini ada Gedong linggih Ratu Mas Ayu Subandar.

Bagi saya pura ini cukup unik karena biarpun ini pura asli masyarakat Hindu Bali tetapi disana banyak ornamen China mirip dengan Klenteng bagi pemeluk agama Kong Hu chu. Kok bisa??

 

Cerita mistis Bali , pura Dalem Balingkang ini awalnya  memiliki legenda kisah cinta Raja Sri Jaya Pangus. Dalam legenda itu dikisahkan bahwa situs Pura Dalem Balingkang adalah sebuah kerajaan pada masa pemerintahan Sri Jaya Pangus dengan pusat kerajaan di Desa Sukawana di sekitar bukit Panarajon atau Penulisan. Pembuatan Pura Dalem Balingkang berawal dari kesalahan Raja Sri Jaya Pangus menikahi Putri seorang saudagar dari Cina yang bernama Kang Cing Wie yang tidak mendapat restu Ayahnya. Akhirnya Raja Sri Jaya Pangus terusir dari istana Panarajon dan mendirikan istananya yang kemudian di sebut Dalem Balingkang. Banyak versi dari cerita asal usul Pura dalem Balingkang. Tetapi disini saya tidak akan mengupas tentang sejarah keberadaan Pura sakral dan suci bagi umat Hindu Bali ini.

 

Saya akan bercerita tentang kekaguman saya terhadap Ratu Mas Ayu Subandar, kekuatan beliau membuat saya benar benar mengakui bahwa Bali memang sangat layak disebut Pulau Dewata dengan semua mistis dan sakralnya. Sosok Agung Ratu Mas Ayu Subandar atau biasa di panggil Ratu Niang Subandar yang juga bernama Kang Cing Wie. Bagi masyarakat Hindu Bali pemujaan pada beliau biasanya untuk memohon kelancaran rejeki atau berkah bagi pekerjaan. Bagi saya beliau seperti Dewi pemberi berkah rejeki atau kekayaan.

 

Saya melihat dibeberapa rumah adat Bali, ada yg memiliki kamar suci atau gedong suci

Kamar suci berbeda dengan Sanggah atau Merajan keluarga (pengertian awam bagi kita Pura keluarga, tempat sembahyang leluhur yang selalu ada dalam rumah induk pada masyarakat Hindu Bali) masyarakat Hindu BALI yang mempunyai kamar atau gedong suci biasanya mereka yang memiliki anugerah khusus yang di sebut “Ngiring”

“Ngiring” adalah murni anugerah dari Bethara Bethari tidak bisa diminta atau dipelajari, biasanya pribadi yang terpilh akan menjadi “Tapakan” (Tempat Linggih Bethara Bethari) banyak tanda tanda khusus bagi orang yang mendapatkan anugerah ini, biasanya mata batinnya akan terbuka, ada yang berambut gimbal secara mistis dimana rambut gimbal ini tidak diijinkan digunting. Yang paling menakjubkan bagi saya mereka bisa mendadak punya kemampuan supranatural. Mampu menjadi healer atau mampu meramal dengan tepat. Saya melihat sendiri bagaimana banyak orang sakit yang sembuh dengan pertolongan Tapakan ini. Banyak sekali Bethara bethari di Bali yang memilih tapakan beliau sendiri sendiri, salah satu yang saya lihat dengan jelas dan saya kenal dekat adalah tapakan Ratu Mas Ayu Subandar. Bagi pribadi yang terpilih untuk menerima anugerah ini sama sekali tidak bisa mundur atau menolak, resikonya terlalu besar. Bisa berujung sakit, kehancuran hidup bahkan kematian. Tetapi bagi yang taat mengabdi, jaminan damai dan ketenangan batin pasti mereka peluk selain mereka harus mengabdikan hidup mereka untuk menolong sesama.

 

Saya pribadi punya pengalaman sakral dan mistis dengan Ratu Niang Subandar. Saat itu salah satu teman saya yang mendapat anugerah Ngiring Ratu Niang Subandar bercerita kepada saya, bahwa Sang Ratu Niang Subandar menguasai dan memberi berkah bukan hanya rejeki tetapi apapun termasuk lautan. Saat itu saya hanya tersenyum walaupun hati saya ragu.

 

Naah saat itu setelah ngobrol dengan tapakan beliau saya yang masih ada tugas gladi bersih sebagai Master of Ceremony disebuah acara di hotel setempat, saya pamit berangkat. Namanya juga gladi bersih di hotel, saya harus rapi donk, saya pakai motor ke hotel, harus menempuh perjalanan yang tidak pendek sekitar tiga puluh menit. Saat itu mendung gelap sekali,  karena ingat kalimat tapakan tadi bahwa beliau juga menguasai laut dan air. Dari atas motor saya hanya katakan dalam hati “Ratu Niang, jika Ratu Niang memang menguasai air, tolong jaga saya supaya tidak kehujanan” apakah saya katakan itu karena saya mengimani cerita teman saya? Tentu tidak. Semua saya katakan iseng saja. Ajaibnya dijalan ternyata HUJAN dan air hujan itu sama sekali tidak membasahi saya. Saat motor saya melaju hanya bagian belakang atau boncengan motor saya saja yang kuyup oleh air hujan sedangkan saya tidak sama sekali. Sampai saya tiba di hotel tujuan. Padahal saya tanpa jas hujan!

 

Sejak saat itu saya mengakui kesakralan Bali, saya paham dengan sebutan Bali adalah Pulau Dewata dan setiap jengkal tanah Bali mistis da sakral.

Sembah dan hormat saya untuk Ratu Ayu Mas Subandar

Hormat dan kagum saya pada kesakralan pulau Dewata.

Jika dalam penulisan ini ada bagian yang salah, dengan hormat dan kagum saya pada kesakralan Bali maafkan saya, karena saya menulis dari pengalaman pribadi dan kaca mata orang awam yang bukan pemeluk Hindu Bali.

 

Salam damai semesta.

Wisata Kuliner Murah di Jogja, Angkringan Kopi Jos Lek Man Hilang?

 



Jogja dengan segala pesonanya, siapa yang tidak jatuh cinta? Kota budaya dan kota pelajar ini memang mengagumkan.

 

Wisata kuliner murah di Jogja yang beragam sungguh membuat rindu. Gudeg, angkringan, soto sampah atau mie godognya, hmmm… yummy sekali.

 

Menurut saya, walah satu wisata kuliner murah Jogja adalah kopi Jos Lek Man. Siapa yang tidak tahu dengan Kopi Jos Jogja?

 

Angkringan yang letaknya di samping stasiun Tugu ini selalu ramai pembeli. Paling asik jika kita beruntung dan bisa duduk tepat di depan pikulan kayu kuno angkringan ini. Kita bisa melihat yang menyeduh kopi jos.

 

Duuh…, ini adalah nikmat tersendiri. Bunyi jooosss dari arang kayu panas yang dimasukkan dalam secangkir kopi hitam membuat saya benar-benar merasakan oksigen Jogja yang sesungguhnya.

 

Angkringan yang selalu ramai ini seringkali membuat kita tidak kebagian duduk di depan pikulan tua itu. Akan tetapi, tenang saja, Lek Man menyiapkan tikar-tikar di sepanjang trotoar untuk kita duduk lesehan di sana.

 

Itu pun, jika hari libur tidak jarang kita harus antri untuk duduk di tikar itu. Jika tidak sabar menunggu, silakan cari kopi jos di angkringan lain di sebelahnya. Berjajar banyak sekali penjual kopi arang panas di sana.

 

Beberapa hari yang lalu, saya yang juga pemburu wisata kuliner murah Jogja, saat lewat di samping stasiun Tugu, menengok tempat Lek Man. Tempat itu biasa digunakan Lek Man untuk menjajakan kopi josnya.

 

Sayang sekali, tempat itu jadi sepi dan berubah. Terlihat bentangan bahu stasiun Tugu itu jadi bersih. Ke mana kopi jos Lek Man menghilang?

 

Penasaran, saya mencari di mana pindahnya kopi jos Lek Man. Karena bagi saya, tidak mungkin salah satu wisata kuliner murah Jogja itu gulung tikar.

 

Setelah mencari beritanya melalui Google, saya jadi tahu. Sejak 8 April 2021 para peracik kopi jos itu pindah ke sisi selatan stasiun Tugu.

 




Tempat itu disiapkan oleh PT Kereta Api Indonesia DAOPS 6 Yogyakarta. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari penataan stasiun Tugu.

 

 Pindahnya wisata kuliner murah Jogja ini di Slasar Malioboro. Sebuah bangunan mirip ruko yang bergaya klasik. Di sini para peracik kopi areng dikumpulkan.

 

Tempatnya tepat di depan Hotel Neo Malioboro, tetapi bukan ruko yang kaku. Slasar Malioboro mengusung konsep terbuka, sehingga udara bebas masuk ke dalam ruangan. Di samping juga disiapkan tempat lesehan dengan banyak tikar.




 

Saat ke sana saya hanya berdecak kagum, sebab Lek Man tidak ada matinya. Untuk pesan satu gelas kopi jos yang dibandrol tujuh ribu rupiah, saya harus rela antri cukup panjang.

 

Duhai pembaca, tidak rindukah dengan rasa kopi yang ada aroma sangit dari arang panas dan bunyi jos itu? Suara yang membuat kita merasakan sensasi beda, khususnya para pecinta kopi hitam. Ke Jogja, yuuk.*

 

Penulis: Nyai Sampur

 

Editor: Blackrose

 

 

Bicara Drakor, Punya Pasangan Orang Korea Enak ngga, sih?


 

Drama Korea alias drakor dan K-Pop sedang digandrungi banyak orang. Bahkan rasanya, yang tidak kenal dengan Gong Yu akan dianggap sungguh terlalu! Lalu, tidak sedikit yang kemudian bermimpi punya pasangan orang Korea.

 

Saya sendiri punya pasangan orang Korea. Kami sudah tujuh tahun menjalani kehidupan bersama. Banyak hal tidak sama dengan yang ada di drakor.

 

Untuk pembaca yang suka dengan drakor, saya akan membagikan suka-duka mempunyai pasangan orang Korea. Apa saja asiknya dan apa saja kendalanya saat kita punya pasangan pria Korea.

Pertama saya ingin berpesan, jangan terburu bermimpi, kita akan medapatkan sosok lelaki dengan karakter seperti yang ada di drakor.

 

Mau tahu bagian mana yang sama dengan di drakor saat kita punya pasangan orang Korea? Simak ini, ya.

 

Saat kita nonton drakor, kebanyakan tokoh prianya jarang sekali mengucapkan sarange. Itu memang karakter mereka.

 

Mereka akan sangat jarang mengatakan cinta. Sementara kita sebagai perempuan pastinya suka sekali dengan bisikan sarange dari orang yang paling kita cintai. Bener, ngga?

 

Mereka lebih pada praktek atau tindakan-tindakan kecil yang romantis. Misalnya menjerang air panas dalam gelas, lalu dibungkus kain saat musim dingin untuk dipegang berdua.

 

Kemudian melihat bintang di langit berdua, atau melepas jaketnya untuk kita saat udara begitu dingin. Hal-hal kecil ini menjadi budaya dan kebiasaan pria Korea.

 

Saat kita katakan I Love You, mungkin mereka hanya bereaksi dengan pelukan atau apa pun selain jawaban I Love You too.

 

Kalimat I love You atau sarange hanya akan mereka katakan pada saat yang bagi mereka penting sekali dan itu sangat jarang. Hal lainnya benar-benar tidak sama dengan drama Korea.

 

Kemudian bagi yang sudah juga mempunyai kekasih orang Korea, jangan berharap terlalu cepat dibawa atau dikenalkan pada lingkungannya. Jangan juga berharap dibawa ke lingkungan teman-teman terdekat atau keluarga misalnya.

 

Mereka butuh waktu yang cukup lama untuk yakin dan membawa kita pada lingkungan terdekatnya. Hal ini membutuhkan kesabaran kita juga jika ingin punya pasangan orang Korea.

 

Sebelumnya, kita akan merasa dan berpikir, mengapa saya disembunyikan? Ada apa sebenarnya? Benarkah dia cinta saya?

 

Akan butuh waktu cukup lama untuk mereka benar-benar yakin, lalu menggandeng tangan kita pada lingkungan terdekatnya.

 

Catatan lain, perhitungan mereka secara financial sangat detail

 

Terkadang bagi mereka, saat di awal dating, bayar sendiri-sendiri itu sudah biasa. Awalnya sebagian teman saya, saat tahu saya mulai dekat dengan pria Korea, mereka punya satu suara, orang Korea pelit, lho!

 

Tenang, sebab itu hanya di awal saja. Nanti saat sudah benar-benar bersama, semua akan berubah

 

Kemudian soal bermesraan di depan umum

 

Saat kita melihat drama Korea, si tokoh prianya seringkali dengan romatisnya dan cuek bermesraan di depan umum. Catat! Itu hanya ada dalam drama Korea.

 

Realitanya, mereka jarang begitu. Bagi mereka mungkin malu dan bukan kebiasaan mereka. Akan tetapi, membawakan tas kita, itu sudah biasa.

 

Atau, saat tali sepatu kita lepas, dia cuek saja dengan sekitar untuk merapikan tali sepatu. Hal ini pun sudah biasa. Tetapi, untuk bermesraan seperti dalam drama Korea, itu jangan diharapkan.

 

Hal lain lagi, mereka pribadi yang sensitif dan melankolis

 

Pria Korea tidak segan memperlihatkan emosinya saat mereka sedang sedih atau merasa hancur. Saya bahkan sering berpikir, mengapa dia lebih melankolis dari saya, ya?

 

Ya, seperti itulah secara garis besar karakter mereka. Untuk mengekspresikan kesedihan adalah hal wajar bagi mereka.

 

So, masih bermimpi punya pasangan orang Korea?*

 

Penulis: Nyai Sampur

 

Editor: Blackrose


Cerita Mistis dan Teror Rumah Angker di Lereng Lawu Bagian Tiga


 

Sebelum membaca cerita mistis dan teror rumah angker bagian tiga ini, ada baiknya pembaca membuka dan membaca dulu bagian satu dan dua.

 

Pada cerita mistis dan teror di rumah angker bagian dua sudah saya ceritakan penuturan Pak Larwo. Pembaca tentu dapat membayangkan, betapa saya memerlukan waktu beberapa saat untuk diam, setelah mendengar cerita Pak Larwo.

 

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, cerita mistis dan teror rumah angker di lereng Lawu ini berawal ketika saya dan suami tinggal di rumah tua yang kami sewa di sekitar Tawangmangu dan cemoro kandang. Rumah ini terletak di kaki Gunung Lawu.

 

Saat itu saya bahagia sekali. Setelah melewati hari-hari mencekam seorang diri, akhirnya suami saya pulang ke rumah yang kami sewa bersama itu. Tentu saja saya berharap tak akan ada lagi cerita mistis dan teror rumah angker.

Banyak yang saya ceritakan saat itu pada suami. Khususnya bagaimana saya harus ketakutan sendiri dengan semua teror arwah di rumah itu.

 

Tanggapan suami saya seperti biasanya, dia hanya tersenyum. Tentu saja dia paham sekali kalau saya mempunyai kemampuan melihat hal-hal mistis.

 

“Sudah hampir delapan tahun mata batinmu terbuka, mengapa masih saja takut?” tanya suami saya. “Harusnya kamu sudah terbiasa dengan semua itu. Enjoy saja, Sayang,” hiburnya.

 

Tentu saja saya langsung menjawab, “Tidak takut bagaimana toh, Mas? Kalau saya tidak sendirian, saya tidak takut sama sekali, tapi kalau sendirian ya saya takut.”

 

“Kamu harus bisa hadapi ketakutanmu, karena kamu juga tidak bisa menutup mata batinmu. Itu justru bagus, kamu jadi tahu apa yang terjadi di dimensi lain.”

 

Percakapan kami tentang cerita mistis di rumah ini kami akhiri dengan secangkir kopi pahit dan pisang goreng sebagai kudapan. Kami sama-sama mencoba melupakan kejadian-kejadian yang saya alami.

 

Beberapa hari setelah itu, saat saya sedang santai duduk di meja makan, tiba-tiba ada istri Pak Larwo sudah masuk ke rumah lewat pintu samping. Pintu itu memang jarang saya tutup. Bu Larwo sudah berdiri di depan meja makan saya.

 

“Mbak, saya lihat pintunya terbuka, jadi saya masuk saja,” katanya dengan sopan. “Saya ke sini mau minta tolong, Mbak. Saya pinjam uang lima ratus ribu, besok saya kembalikan.”

 

“Untuk apa, Bu?” tanya saya.

 

“Untuk bayar arisan, Mbak. Uang saya ga cukup,” jawab Bu Larwo.

 

“Begini saja, Bu, kalau uang sebanyak itu terus terang saya ga ada, sebentar yaa….”

 

Saya ke kamar mengambil selembar uang seratus ribu, lalu memberikannya pada Bu Larwo.

 

“Bu, pakai saja uang ini, ga perlu berpikir untuk kembalikan uang ini ke saya. Pakai saja yang saya punya, saya mampu kasih cuma itu, Bu, sisanya untuk kebutuhan saya di sini juga.”

 

Setelah ucapkan terima kasih, Bu Larwo pun pulang.

 

Besoknya, saat saya mau ke pasar, saya cari dompet saya di dapur tidak ada, paniklah saya. Karena di sana bukan hanya uang saja, tetapi ada KTP, kartu ATM, dan SIM saya. Untuk pulang mengurus semua yang hilang itu terbayang kan, repotnya.

 

“Mas, Maaasss… lihat dompet saya ga?” tanya saya kepada suami saya.

 

“Nggak, saya tidak lihat,” jawab suami saya.

 

“Dompet saya hilang, Mas, kemarin Bu Larwo ke sini mau pinjam uang, kan? Jangan-jangan….”

 

“Jangan curiga dulu,” potong suami saya. “Kamu ingat-ingat dulu, kamu letakkan di mana dompetmu.”

 

Hasilnya, sampai malam dompet itu raib entah ke mana, dan saya tetap saja panik. Saat saya sedang di dapur menyiapkan makan malam, suami saya menghampiri saya.

 

“Sayang,” katanya, “kemarin arwah ibu-ibu tua di gudang belakang minta dupa kan, ke kamu? Saya minta, kamu kasih saja, kamu ngotot ga mau.”

 

“Iya, kenapa?” tanya saya, tak tahu arah pembicaraan.

 

“Kamu kan, bisa interaksi dengan arwah. Coba kamu nyalain dupa untuk ibu tua itu. Kamu tanya di mana dompetmu. Saya pikir dan yakin ibu itu yang sembunyikan, karena keinginannya tidak kamu berikan. Ayo, saya siapkan dupanya, saya yang nyalakan. Kamu yang ajak bicara.”

 

Saya tidak begitu yakin dengan ucapak suami saya, tapi karena penasaran, malam itu saya bersedia. Setelah dupa dinyalakan, saya mencoba mengajak berinteraksi arwah ibu di gudang yang letaknya di belakang dapur rumah kami.

 

Sejenak aroma dupa begitu harum memenuhi ruang dapur, sampai akhirnya sosok arwah ibu itu muncul. Terlihat serupa siluet yang tidak terlalu jernih, tetapi cukup jelas sosoknya.

 

“Permisi, Bu, di mana dompet saya?” Saya segera bertanya padanya.

 

“Di kamar saya,” jawab arwah itu datar.

 

“Sayang, coba kamu ke gudang, cari dompetnya di sana. Kata ibu ini, dia bawa ke kamarnya,” kata saya pada suami saya.

 

Suami saya bergegas ke gudang rumah dan benar, di sana ada dompet saya. Perjanjian kami dengan pemilik rumah, rumah itu hak tinggal kami, kecuali gudang, karena gudang itu dipakai pemilik rumah untuk menyimpan barang-barangnya.

 

Gudang itu punya pintu yang langsung ke dalam rumah yang saya tinggal. Sedang pintu lainnya dari gang di samping rumah, yang terhubung dengan rumah dan memang tidak pernah dia kunci.

 

Titip, istilah sang nyonya rumah, biar saya dan suami sesekali bisa melihat, kali saja ada yang bocor. Jadi saya belum tentu tiga minggu sekali masuk gudang itu.

 

Apalagi saya tahu, gudang itu angker. Arwah perempuan yang sering ke dapur rumah, setiap kali menghilang, dia kembali ke gudang itu, yang dia sebut kamarnya.

 

“Semua ada, Sayang. KTP, SIM, dan kartu ATM lengkap, tetapi uangnya tidak ada semua. Tanyakan di mana,” kata suami saya.

 

“Bu, di mana uangnya?” tanya saya tak sabar, dengan sengatan wangi dupa masih memenuhi dapur.

 

Sementara itu, suami saya berdiri tak sabar dan penasaran di samping saya. Arwah perempuan itu menunjuk pada kotak kardus berisi tumpukan kantong plastik bekas di sudut dapur.

 

“Sayang, tolong bongkar kotak kardus itu,” ucap saya pada suami saya, dan lima lembar uang seratus ribu masih utuh, tergulung dalam kotak kardus besar itu.

 

“Kamu sih, sudah saya bilang kasih saja dupa yang dia minta daripada dia jahil ke kita,” gerutu suami saya”

 

Penulis: Nyai Sampur

 

Editor: Blackrose

 

 

 


Cerita Mistis dan Teror Rumah Angker di Lereng Lawu Bagian Dua

 


Cerita mistis dan teror rumah angker di lereng Lawu pertama sudah saya kisahkan. Saya bersama suami tinggal di rumah tua di desa kecil yang letaknya di antara Cemoro Kandang dan Tawangmangu.

Pembaca boleh saja mengatakan bahwa cerita mistis dan teror di rumah angker ini hanya kisah fiksi. Saya sendiri saat mengalami hal ini seperti tidak percaya dengan apa yang saya lihat dan dengar.

Seperti yang sudah saya kisahkan sebelumnya, saat itu saya sedang sendiri di rumah itu. Suami saya sedang keluar kota. Suara gaduh terdengar dari dapur sekitar jam tiga pagi. Kejadian berikutnya membuat saya bertanya dalam hati, misteri apa sebenarnya yang terbungkus di balik kengerian ini? Adakah kisah dan cerita mistis di baliknya?

 

Sampai pada suatu hari ada Pak Larwo (bukan nama sebenarnya) datang ke rumah. Pak Larwo ini adalah orang yang ditugaskan oleh pemilik rumah untuk membantu kami jika ada masalah di rumah yang kami sewa. Misalnya masalah air atau mungkin ada yang masih bocor di rumah itu.

Awalnya, setelah kejadian pagi itu, saya sempat menghubungi pemilik rumah dan menceritakan apa yang terjadi. Pemilik rumah hanya tersenyum, tanpa banyak menanggapi. Kemudian pemilik rumah meminta kepada saya untuk menyimpan pengalaman itu untuk saya sendiri saja.

 

Pemilik rumah juga meminta agar saya tidak bercerita kepada siapa pun mengenai hal tersebut. Termasuk pada stafnya yang terkadang pasti beliau utus ke rumah itu.

Karena tetap tidak mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya, maka saat Pak Larwo ke rumah, saya pun mencoba mengorek informasi darinya.

 

“Pak, permisi mau tanya. Apakah di dekat sini ada kuburan, atau yang lain mungkin?”

 

“Mbak, di belakang rumah ini kan, pemakaman umum. Dua ratus meter dari rumah ini ada dua punden yang masih digunakan oleh sebagian warga sekitar untuk melakukan ritual. Bahkan setiap enam bulan pada penanggalan Jawa, di sini masih rutin ada ritual dan tradisi bersih desa.”

 

Begitulah jawaban tak terduga dari Pak Larwo. Saya mulai sedikit mengerti.

“Pundennya siapa, Pak?” tanya saya kemudian.

 

“Punden yang pertama dulu ada arca perempuan menggendong bayi, Mbak, tapi sekarang arca aslinya kepalanya terpenggal. Dulu pernah dihancurkan oleh beberapa penduduk sekitar yang tidak setuju ada punden di desa ini.”

 

Nah, saya makin penasaran dengan jawaban ini.

 

“Kepala adat yang juga juru kunci punden juga sempat didemo, tapi setelahnya ada kejadian mengerikan di desa ini, Mbak.”

 

“Kejadian aneh bagaimana, Pak?” tanya saya kemudian makin penasaran.

 

“Begini, Mbak. Beberapa hari setelah arca itu dihancurkan, semua pelakunya mati satu per satu.”

 

Duh, merinding saya mendengar bagian ini.

 

“Ada yang kecelakaan di jalan, ada yang jatuh di rumah, semua tidak tersisa,” lanjut Pak Larwo. “Anehnya, mereka terluka di bagian mana mereka hancurkan arca itu. Ada yang kena kepalanya, ada yang kena bahu atau kakinya. Sama persis letaknya dengan rusaknya arca itu.”

 

“Lalu, Pak?” tanya saya makin ingin tahu.

 

“Kejadiannya tidak berhenti sampai di sana, Mbak. Penduduk desa ini mati satu per satu dalam waktu yang berdekatan. Misal hari ini satu rumah penduduk ada yang mati mendadak, besok tetangga sebelah rumah. Besoknya lagi depan rumah, dan begitu terus, hingga akhirnya desa ini sepakat menyerahkan masalah ini kepada kepala adat di sini.”

Pembaca pasti bisa membayangkan bagaimana mengerikan kisah itu. Saya sesaat tak dapat berkata-kata mendengar cerita Pak Larwo.

 

“Setelah menyerahkan masalah ini kepada kepala adat, dibuatkanlah patung baru yang sama persis di dalam punden pertama. Sementara patung asli yang sudah tidak berkepala diletakkan di samping bangunan punden. Dengan upacara besar,” lanjut Pak Larwo.

 

“Sejak itu, kasus mati mendadak berhenti di desa ini, dan tidak ada yang berani melarang adanya punden itu ataupun upacara bersih desa di sini. Ya… sekarang saling menghormati keyakinan masing-masing saja, Mbak, lebih aman. Desa ini aman sekali, Mbak, tidak ada yang bisa mencuri di sini,” kata Pak Larwo.

 

“Pernah ada penduduk luar desa yang mencoba mencuri di sini, dia tidak bisa keluar dari desa, kebingungan sendiri.”

 

“Lalu, punden yang kedua, Pak?”

 

“Itu punden untuk orang sepuh yang menjadi cikal bakal desa ini ada, Mbak.”

 

Saya hanya bisa melongo mendengarnya.

 

“Tenang saja, Mbak, di sini aman, yang penting santun. Kalau sesekali ada kejadian aneh, santai saja. Permisi saja kalau Mbaknya mau tinggal di sini.”

 

Saya jadi paham dengan yang terjadi di rumah itu, tanpa harus bercerita ke Pak Larwo.

 

 

Bersambung….

 

Penulis: Nyai Sampur

 

Editor: Blackrose


Cerita Mistis dan Teror Rumah Angker di Lereng Lawu Bagian Satu

 



Ketika kita bicara tentang cerita mistis, orang akan mengartikan dengan berbagai macam asumsi. Ada yang mengatakan bahwa mistis berkaitan erat dengan cerita hantu, tidak sedikit yang menghubungkannya dengan dunia gaib.

Tidak jarang cerita mistis dianggap sebagai kisah fiksi saja. Namun demikian, diakui atau tidak, segala sesuatu yang berhubungan dengan misteri selalu menarik untuk digali.

Cerita mistis ini saya alami saat saya menyewa sebuah rumah tua di kaki Gunung Lawu. Awalnya saya dengan suami ingin menepi dari hiruk-pikuk kota. Kami pasangan yang sama-sama mencintai hening, sama-sama tidak betah dengan udara yang panas dan penuh polusi.

Mimpi kami bisa menepi, tinggal di lereng gunung yang berhawa sejuk. Hingga saatnya empat tahun lalu kami kebetulan berkunjung di telaga Sarangan, lalu mencoba melihat daerah sekitar sana.

Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, hingga Tawangmangu, membuat kami jatuh cinta. Udaranya yang sejuk, masyarakatnya yang ramah, dan alamnya yang memukau, membuat kami mencoba mencari kontrakan rumah di sekitar sana.

Pekerjaan saya tidak menuntut saya harus diam di satu tempat. Demikian pula pekerjaan suami juga sama. Hal ini membuat kami akhirnya berusaha mewujudkan keinginan kami untuk tinggal di sana.

Sampai pada akhirnya kami menemukan satu rumah tua dengan harga yang cukup terjangkau di sana.

Rumah itu sudah lama tidak berpenghuni. Butuh waktu kurang lebih tiga bulan untuk pemilik rumah memperbaiki rumah itu sampai kami bisa menempatinya.

Pekerjaan kami memang tidak menuntut kami diam di satu tempat, tapi sesekali salah satu di antara kami harus pergi. Tidak jarang, kami berdua harus pergi bukan pada satu tempat yang sama.

Sepuluh hari pertama menempati rumah itu, semua biasa saja. Sampai pada suatu hari suami saya harus meninggalkan rumah dan saya sendiri di rumah. Di sini cerita mistis itu dimulai.

Dari siang sampai malam semua berjalan biasa saja. Tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Jika di atap rumah sesekali banyak bunyi rebut, itu suara kucing. Sampai sekitar jam tiga pagi saya terbangun karena di dapur rumah kami ada suara seperti orang sibuk memasak.

Awalnya saya pikir tetangga yang memasak terlalu dini, tetapi setelah kesadaran saya terkumpul, saya mencoba fokus mendengar suara keributan di dapur itu. Ternyata suara itu dari dapur rumah kami.

Saya berpikir, apakah tuan rumah masuk rumah kami tanpa permisi, tapi mengapa pagi-pagi buta? Saya keluar dari kamar berjalan menuju dapur. Semakin mendekat ke dapur suara itu semakin jelas, dan ternyata di dapur tidak ada siapa pun, hanya ada suara orang sibuk beraktivitas dan asap putih di atas kompor.

Asap putih itu bukan menyerupai asap memasak dari kompor gas, tetapi seperti kepulan asap memasak dari dapur tradisional yang masih menggunakan kayu.

Seketika itu juga tubuh saya terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Jantung saya berdetak entah berapa kali lebih cepat, bulu kuduk saya berdiri.

“Duh Gusti, saya harus bagaimana?”

Itu saja kalimat yang sanggup saya keluarkan. Mungkin pembaca akan berpikir, mengapa tidak membaca doa?

Terlalu panik dan terlalu takut membuat saya kehilangan sebagian kesadaran berpikir saya. Untuk beberapa saat saya tidak ingat dengan doa apa pun, yang ada hanya ketakutan yang luar biasa. Kengerian hingga ke tulang.

Suara-suara itu berhenti sesaat setelah saya melihat kelebatan perempuan tua dengan jarik coklat lusuh berjalan masuk ke kamar mandi, lalu menghilang entah ke mana.

Apakah gangguan mistis itu berhenti sampai pada pagi itu? Tidak. Itu hanya awal makhluk astral itu memperkenalkan diri.*

 

Bersambung….

 

Penulis: Nyai Sampur

 

Editor: Blackrose


Thursday, November 21, 2019

Penari Bulan dan Matahari


Mereka Penari bulan dan Matahari


Penari Bulan itu  gemulai lembut saat Purnama tiba
membawa sejuk dan damai jiwa
terkadang meringkuk dingin diterpa sepi
bersembunyi diantara bulan sabit
gemulai gaunnya adalah jubah diksi warna putih
tentang cinta, tentang milik
tentang harmoninya hati
pelukannya selembut senja saat bulan mulai turun perlahan
senyumnya terkadang segelap malam dengan binar bintang disudut bibirnya. 

***********

Sedangkan dia, pemilik matahari
Panasnya tak pernah mati
menyengat, membakar apa saja
liar, brutal terkadang jiwanya gerah
namun dia tak pernah ingkar janji
Dia pasti datang tiap pagi
sesaat setelah subuh
begitu hangat, temani setiap cangkir kopi tersaji pagi itu, kemarin dan semoga akan selalu
Dia candu untuk ditunggu saat pagi dan senja
hangat dan baranya adalah adalah kepastian yg hakiki

************


kemudian aku, adalah pecintanya
penikmat setiap pesonanya
dalam jiwaku mereka senyatanya pelukan Bunda
semoga tak lekang oleh waktu
tak aus di gerus kecewa
tak lepas karena angkara
aku mencintai dengan segala egoku
hari ini itu pasti, berharap esok juga akan sama
maafkan jika acap kali aku menggurat luka pada senyum kalian.

I love U both....




Wednesday, November 20, 2019

Stand by me, Please....



Jangan lagi menghilang, apa kau kira dipermainkan rindu itu nikmat?

apa kau kira diaduk khawatir itu menyenangkan?

please... tetaplah di sampingku, jangan lagi menghilang.

aku sudah tahu rasanya kehilangan kamu seharian, lelah, marah, khawatir, takut
ahhh... berjanjilah untuk tidak menghilang lagi.

Jangan lenyap begitu saja, aku bukan orang yang tahu segala hal tanpa kabar, aku tidak bisa menebak kau ada dimana,  kau hilang seolah ditelan gulungan waktu yang entah membawamu kemana, jangan suapi aku dengan kehilangan lagi, seharian tadi rasanya waktu berputar begitu lambat, aku jengah dan marah, entah untuk siapa kemarahanku.

kau tahu tidak, rasanya sepi yg menyengat? tetaplah disampingku, walau kita saling diam, kau sibuk dengan duniamu, aku disini dengan setumpuk imajinasiku.  Biarkan begitu asal aku tetap tahu, kau selalu ada disampingku.

biarkan sesekali aku nikmati arogansimu, sesekali melihat badai pada kerlingmu, terkadang meramunya dalam aksara, menjadi benih yang hidup dan tumbuh dalam jiwa, dengan rindu yg hangat atau kesakitan yg nikmat.

Tanpamu aku tidak akan merasakan bahagia yg terlalu atau kesakitan yang sewajarnya.

Tanpamu aku sepi ditengah riuhnya mayapada.
Denganmu aku gegap gempita di tengah sepi yang menyegat sekalipun..

denganmu Jiwaku riuh seperti sebuah pesta perayaan tahun baru lengkap dengan kembang apinya, terkadang dadaku seperti meledak karena riuhnya.

Biarkan aku menikmati rindu tanpa kehilangan.

Aku manusia yang terikat pada butuh, dan aku butuh kamu, tidak bisa tidak.

Monday, April 29, 2019

PEMULUNG HATI (POTRET USANG)






​​​​​​​​​​​​​​​​​

Potret usang itu lagi yang membuat hati  menyimpan bara panas  membakar jiwa,

yach... nyatanya aku cemburu, nyatanya itu kisah lama yang masih ingin kau simpan.

"Tidak, itu sudah lima belas tahun yang lalu, bahkan rasanyapun aku sudah lupa" tuturmu terkekeh tiap kali aku mengusik potret tua itu lagi,

"aah sudahlah, aku tak ingin bicarakan itu lagi" serigaiku, tapi aku tahu, entah di penggal waktu yang mana lagi, aku akan bertutur hal yang sama, karena potret itu masih tergantung pada dinding itu, ya.. masih saja disana.

taukah kau sayang...  setiap kali aku menatapnya, setiap kali juga waktu seolah berhenti sejenak hanya untuk menghujam jantung lebih keras dan lebih keras lagi.  keluhku dalam hati. karena mengejanya dengan kata tak akan bermakna  untukmu.


Aku seperti pemulung hati, yang setiap hari meringkuk di ujung jalan, berharap mendapat remah remah dari hatimu yang jatuh tercecer, lalu kubentuk kembali, tak akan sempurna, tapi aku berharap ini akan menjadi bagian yang hangat membasuh dahaga jiwa.

tak jarang aku hanya mampu duduk dan menunggu hingga larut, namun remahan hatimu tak satupun luruh. aku harus pulang dengan lapar dan haus.

terkadang remah-remah itu  terjatuh, aku bahagia sayang, ya aku bahagia, aku punggut satu persatu, ada yang berbentuk kecil pipih, sesekali begitu lembut menyentuh ruam ruam hati, terkadang aku temukan dengan ujung-ujung runcing. saat ku punggut jari-jariku terluka berdarah, tapi aku bahagia... aku bahagia...  setiap luka di jari jariku kubasuh dengan air mata, mungkin ini yang disebut luka yang nikmat.

yaa... asal bisa dapatkan remah hatimu sekecil apapun, itu adalah syukur yang nikmat sayang..

tak percuma aku menunggu, tak percuma sayang...

aku hanya pemulung hati yang diam di sudut hatimu,

yang membentuk setiap remah  tercecer lalu menyimpannya lekat dalam jiwaku, menjadi milik yang paling kujaga.

aku tak bisa menjanjikan sesuatu yang sempurna, tak akan bisa,

aku juga tak akan menuntutmu menjadi paling sempurna

Hidup mengajanku,  tak seorangpun mampu kendalikan hati jiwa lain, tidak peduli seberapa baiknya diriku, tidak peduli seberapa besar artiku nantinya bagimu, hidup mengajarkan padaku seberapapun besarnya cinta hal  itu tak berarti  akan mendapatkan penghargaan yg sama.

Aku memaknai setiap moment saat aku harus pulang dengan perut kosong dan lapar tanpa terisi apapun, aku mengingat bagaimana aku memperjuangkanmu dengan hati yang hancur.

sayang, hidup akan berjalan tanpa pernah berhenti bahkan untuk sedetikpun, aku tak akan bisa mengubah permulaan tetapi aku ingin mengubah akhir ceritanya. yaaah... mngubah epilog hatimu, ada aku disana,  runtukku dalam hati, hanya dalam hati.... karena NYATANYA sampai detik ini aku masih pemulung hati yang masih menunggu remah terjatuh dengan potret lama itu menggantung sebagai remahan luka yang sangat.

andai kau tau sayang...


x


Thursday, August 7, 2014

Catatan Bunda :)


Catatan Bunda Enggar :)

Ndhuuukkk .....
Nggak ada kata-kata yang bisa bund tuliskan di hari jadimu kali ini.
Satu yang membuat bund selalu terharu, rasa sayangmu pada bund. Yaa, sayang yang benar-benar nyata adanya.

Rasa sayang yang tidak terbatas hanya di dunia maya, tetapi itu meluber hingga ke dunia nyata juga.
Bund selalu ingat bagaimana senangnya bila kau dipanggil --ndhuk-- panggilan yang sebenarnya 'sudah tak layak' lagi disematkan di depan namamu.
Menurut bund, panggilan itu 'hanya' untuk bocah perempuan kecil bau kencur, yang menggendong senik (tenggok) -- bakul terbuat dari bambu berukuran kecil kemana-mana sambil membawa payung mungil berwarna-warni. Berbagai alat masak, dompet, sisir, cermin dan benda-benda lain berukuran mini, juga beberapa alat rias yang dicomot dari meja ibunya tergolek tak beraturan di dalamnya.
Membayangkannya saja sudah membuat bund terkekeh, geli.

Tapi itulah dirimu Jingga Rangkat.......
Kau masih menyimpan kemanjaan masa kecil yang kau tenteng kemana-mana. Kemanjaan yang membuat bund serasa menjadi ibumu yang sesungguhnya.

Selamat berulang tahun ya ndhuk, semoga Allah menyegerakan permohonan dalam doa-doa yang kau panjatkan. Bund tahu, Karunia-Nya akan datang pada waktu yang tepat, dengan takaran yang pas dan tentu saja penuh hikmah.
Tetaplah memohon pada-Nya, memasrahkan seluruh jalan hidupmu pada ketentuan-Nya.
Peluk sayang bund untukmu, untuk kesehatanmu, untuk kebahagiaanmu....


 Catatan yang Terlambat : Bunda Yety :)

Apa yang harus bunda tulis untukmu hari ini? Dirimu terlalu unik bila harus dirangkai dalam diksi bunda yang terlalu terbatas dan sangat sederhana. Bertemu denganmu pertama kali betul betul kejutan besar untuk bunda. Jabat hangatmu saat bertemu serta peluk eratmu ketika kita akan berpisah, sangat mengesankan buat bunda. Semakin mengesankan lagi saat dirimu bercerita ttg kisah dudulmu  ketinggalan pesawat karena tertidur.

Jingga oh jingga....Bunda semakin merasa dekat denganmu saat kau berkisah ttg pengalaman hidupu yg bikin jantung bunda bukan lagi berdetak tetapi berdentum dengan kerasnya. Bunda juga merasa berarti buatmu saat kau menjadikan bunda salah satu tempatmu berkesah...

Jingga... Salah satu napas desa... Yg selalu penuh perhatian. Tak ada ultah warga yg terlewat dari perhatianmu, jika pun ada tentu karena alasan yg sangat masuk akal dan yg pasti bukan karena kau tidak peduli. Ini yg bunda tak mampu lakukan.

Jingga happy b'day, ya... Kecintaan dan kepedulianmu pada sesama membuat dirimu selalu dicintai dan dirindui...




Anda Gandrung Drakor? Orang Korea Itu Jatuh Cinta pada Negeriku!

  Hai pembaca, jumpa lagi dengan Nyai Sampur. Saat ini saya sedang tidak ingin bercerita hal mistis. Kita berbincang santai sambil ngopi, yu...