Tak pernah menyangka saat kerudung jingga itu benar-benar aku kenakan, bukan lagi mimpi yang aku renda bersama bait-bait hayal. Bukan
hanya masturbasi otak yang aku nikmati tiap senja mulai memerah sampai
ujung malam menyelimuti nyenyak tidurku. Aku sudah lama mengenal sosok
Laki-laki ini, namun semua
kemustahilan bermain dalam hati dan pikirku, bagaimana tidak laki-laki
itu suami wanita yang sangat mencintaiku, yang dengan penuh cintanya dia
selalu bawakan makanan kesukaanku, bahkan saat aku sakit dengan peluh
dan air matanya dia duduk di sampingku sepanjang malam, Bunda… panggilan
yang begitu lembut untuk semua kasih sayangnya. Aku memang tak lahir
dari rahimnya, tetapi semua cinta yang dia berikan melayakkan dia untuk
ku sebut BUNDA… tanpa mengurangi setitikpun kasih sayang dan
penghormatanku kepada MOMMY wanita yang penuh cinta, wanita yang
pertaruhkan nyawanya untuk membuatku lahir dan menikmati indahnya bumi
yang aku pijak.
Awal rasa itu muncul
pada laki-laki itu, saat aku sering jengah menghadapi hidup, saat aku
merasa terlalu bodoh dengan semua pilihan yang aku ambil dalam hidupku,
aku gontai saat perahu cintaku dengan lelaki jinggaku kandas di tengah
laut. Kandas tanpa badai yang berarti, hanya dia beranjak meniti hati
dengan perempuan yang dia anggap lebih dari aku, saat itu aku tak tahu
lagi bagaimana bentuk hatiku, semua hancur seperti kepingan tak
beraturan, berdarah, perih… laki-laki itu datang dengan senyum tulusnya,
berbagi pundak saat jiwa ini lelah. Tapi kesadaran kami mengikat kami
kuat. Tak mungkin bermimpi!! Bunda terlalu mulia untuk dihianati…






