Sunday, March 17, 2013

Jingga-Boil Dalam Secangkir Imajinasi Nakal…

Image >> 123.com


Perempuan yang berdada besar
Rimbun nan hijau ingatkanku kembali memeluk indah tubuhmu
Bau wangi khas merangsang otakku yang sedari dulu kotor tentang wanita

 Ouch….wanita?
Achh, aku harap kamu telah menjadi seorang perempuan
Yang memancarkan mata air diantara bukit kembarmu yang ranum
Yeahh, aku hanya lelaki yang sering mengintip tidurmu
Walau kadang aku bisa memeluk hangatnya tubuhmu
Tapi aku hanya bisa memelukmu
Bukan melucuti pakaianmu satu persatu di kala hening
Karena itu bukan haq aku sebagai lelaki yang liar

 Achhh…
Dulu pernah sengaja aku mengengendap-endap di luar jendelamu
Aku melihat kamu tidur terlentang
Dan sesekali kamu mendesahh
Akupun mengintip ruang sempit di dadamu yang tersingkap
Kamu sedang rindu si punggung kekar yang berkulit kecoklatan
Membawa setangkai mawar untukmu


Yeachh…
Tapi kenapa kamu ragu
Apakah durinya masih setia di tangkai yang tertutup genggaman tanganya
Kamu takut berdarah seperti dulu
Bukankah itu telah berlalu
Apakah hujan masih meninggalkan awan hitam
Aku rasa tidak begitu
*******************

Wahai lelaki diujung pagi…
Terhenyak aku membaca setiap bait katamu…
Mengapa tak kau katakan dari mula setiap rindu yang kau pendam?? Kau hanya mengintip tanpa aku tau,
Bukankah tau adalah Hakku?? 


Kau tak pernah sadar wahai lelaki Pagi, sekelebat pagiku terkadang dirimu yang bermain disana…

Hahaha… kau sebut dirimu lelaki liar???

Maaf, kau perlu tau… aku perempuan jalang… 

Memang raga laki-laki kekar bertubuh coklat yang selalu aku mainkan dalam malam-malam sepiku… tetapi dirimu juga sering sekelebat bermain diranah basahku.

Aahhh… lelaki Pagi…
Mengapa harus mengendap-endap??? Jika pintu jiwa ini tak pernah rapat kukunci??

Setiap napasku tak pernah sepi perindu….
Aku rindu semua peluk…
Aku rindu semua tarikan napas memburu…

Jalang???
Yaah…. Peduli setan! Dengan semua ceracau jalangku…

Aku haus setiap pelukan…
Pelukan-pelukan tanpa tendensi
Kecupan-kecupan keiklasan….
Desakan-desakan cinta dalam tilam ketulusan…

Maaf, jika harapmu saat ini aku telah menjadi perempuan sempurna…
Yang mengalirkan air cinta seorang bunda dari kedua putingku…
Aku masih punya seribu noktah-noktah hitam ketakutan yang meremukkan semua syaraf keberanianku…
Aku perempuan gila yang selalu haus belaian tanpa syarat…

Hai lelaki diujung pagi….
Yang selalu tersenyum dengan secangkir kopi…
Bisakah sejenak kau duduk disampingku??
Tak perlu kau balut lukaku… dia sudah terlalu bernanah… biarkan angin menyembuhkannya…
Hanya duduklah disampingku… temani diamku, aku bosan terkurung sepi…

Duduklah disini sayangku…
Nanti… yaa… nanti… saat indahnya jingga dilangit mulai merambah bumi…
Peluk aku dengan semua deru desahmu…
Kita bercinta tanpa tendensi…
Tanpa bayang-bayang oportunistik…
Hanya jiwa kita yang bercerita tentang kelam, tentang luka dan sejumput kehangatan… 

*******************
Kolaborasi Budi Van Boil - Jingga Rangkat

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More