Wednesday, July 27, 2011

Papi-Mommy, Ijinkan aku masturbasi malam ini



Ah... dinding ini sepi dan beku. Aku tak suka.  Aku ingin menari diantara juntai-juntai warna jingga. Bukan putih, beku dan dingin. Mommy dimana tempatku bermain dulu?? Dimana tempatku menari dimasa kecilku?? Kain jarik batik warna coklat yang kau pakai untuk menggendongku, aah... dimana sekarang? Aku rindu, rindu dengan semua masa kanak-kanakku. Dalam hangatnya gendonganmu. Rindu saat aku sibuk menyusu di dadamu. Puting susumu menjadi kran pelepas cintamu. Hangat sekali mom...


Aku jingga, putri sulungmu, aku lahir saat kau dan Papi sangat rindukan tangis bayi. Aku ratu hati kalian. Setiap gerakku adalah keajaiban buatmu. Tangisku adalah gemasmu, celotehku yang hanya terdengar au... pi.. ooo.. adalah nyanyian surgamu. Mommy-Papi.. kalian ingatkah saat aku belajar jalan? Satu langkahku adalah doa kalian, mom, kau peluk aku begitu dalam saat aku pertama berhasil lari dengan langkah kecilku ke arahmu.

Siapa yang bisa menempati istana hatimu? TIDAK ADA! Aku ratu hatimu. Hidupmu hanya untukku. Tawamu hanya karena celotehku. Dan aku bisa sewaktu-waktu menghapus senyummu saat aku terluka. Aaah... masa kanak-kanakku yang penuh cinta.

Papi-Mom
Sekarang putri  kecilmu sudah beranjak dewasa, menjadi gadis dengan sejuta mimpi tentang jingga! Kelembutan  jingga, tarian puluhan kupu-kupu jingga, aroma jingga yg hangat. Aaah... semua! Semua tentang jingga! Hahahaa.... Laki-laki jingga! Mengapa laki-laki jingga??

Aku rindu laki-laki hangat yg mampu memelukku, bukan hanya sekedar  berbagi desah tapi lebih dari nilai itu. Cinta! Ya ya.. cinta yang membalut setiap napasnya saat memelukku.  Aku pernah berpetualang cinta dengan beberapa pemuda desa. Refo Torai.. ahaaaa... dia yang pertama mengenalkanku dengan lendir cinta.

Hahaha... mengapa aku sebut lendir cinta?? Bukan... bukan mesum yang aku maksud...  dia tak pernah menjamahku terlalu dalam sebagai sepasang kekasih. Tapi cintanya berlendir. Terasa lengket, kenyal  tapi saat yang bersamaan juga membuatku tak nyaman.  Lendirnya   meluber kemana-mana. Meninggalkan jejak lengket dimana-mana. Banyak putri-putri lain yang menikmati lendir cintanya.

Hahahaa... tapi semua sudah selesai saat dia sudah temukan tambatan hatinya. D-wee gadis lembut ujung desa, pesona kelembutannya mampu menyumbat lendirnya.

Lala... pemuda romantis dengan sejuta sajak cinta. Aku sering mabuk dengan semua romantismenya.  Mendadak aku merasa cukup dewasa untuk ingin mencicipi aroma kama sutra. Hahaha.... Iya aroma kamasutra. Bau tubuhnya... gerakan badannya....  Kerling matanya bahkan suaranya membiusku ke alam lain. Alam yang tidak pernah aku jejak. Begitu asing tapi begitu indah. Diriku melambung dalam pesonanya.
Sekarang semua berubah, desa ini menjadi semakin semarak, banyak pemuda-pemuda gagah yang hilir mudik didepan mata, kadang mereka hanya melempar senyum, tak jarang ada yang duduk sebentar di depan jendela hatiku.

Entah siapa... aku ingin mendapatkan lelaki jinggaku. Merasakan peluknya dalam tiap malamku. Menikmati setiap jemarinya bermain di kulitku. Merasakan hangatnya desahnya dalam setiap geliat malamku.

Papi- Mommy... ijinkan aku menikmati nya... entah siapa dia nanti, dia bermain dalam malamku. Merajam malamku dengan siksa rindu yg dalam.  Ijinkan aku terdiam, bungkam tanpa suara, ijinkan ku rajut nafsuku dalam aroma desahku... dalam rona mastubasi otakku. Indah... biarpun hanya sesaat.





  • Maturbasi otakku... hahaha... hal yang tak pernah ku kecap nyata dapat kunikmati dalam hayalku. Sampai puncak nikmatku! Timangan hangat bunda dan peluk tulus seorang lelaki jingga.

  • Siapa yang mau tawarkan tulus cinta lelaki jingga untuk kukecap?? Jingga menunggu di Rangkat.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More