Ya Allah, apa yang kurasa hanya aku yang tahu. Rasa sesak, sakit, nyeri akibat luka hati yang tak seharusnya kualami membuatku luluh lantak. Bukan aku bersebab nyeri itu ada, dan bukan pula aku tak tahu akibat yang akan terjadi.
Jauh sebelum saat ini, sesungguhnya aku sudah mengeja bahwa perih ini akan menjadi bagian dari hidupku. Konsekwensi dari sebuah pilihan yang telah aku putuskan dalam hidupku, maka siap atau tidak resikonya harus kuterima.
Duhai logika rasa, harusnya aku sebagai perempuan dewasa mampu menyelaraskan antara nalar dan rasa. Tetapi nyatanya lagi-lagi nalarku berjalan mengikuti rasa yang jatuh tidak pada tempatnya.
Ibarat bibit bunga matahari yang terjatuh di sawah yang subur, manalah bisa aku terlihat indah??. Bunga itu tumbuh dan berkembang tak sebagaimana mestinya, dia tumbuh mengambil hak padi tumbuh dan berkembang dengan segala pesonanya, pada akhirnya tangkainya perlahan tertunduk, kelopaknya perlahan gugur satu demi satu, mati dan membusuk.
Jauh sebelum saat ini, sesungguhnya aku sudah mengeja bahwa perih ini akan menjadi bagian dari hidupku. Konsekwensi dari sebuah pilihan yang telah aku putuskan dalam hidupku, maka siap atau tidak resikonya harus kuterima.
Duhai logika rasa, harusnya aku sebagai perempuan dewasa mampu menyelaraskan antara nalar dan rasa. Tetapi nyatanya lagi-lagi nalarku berjalan mengikuti rasa yang jatuh tidak pada tempatnya.
Ibarat bibit bunga matahari yang terjatuh di sawah yang subur, manalah bisa aku terlihat indah??. Bunga itu tumbuh dan berkembang tak sebagaimana mestinya, dia tumbuh mengambil hak padi tumbuh dan berkembang dengan segala pesonanya, pada akhirnya tangkainya perlahan tertunduk, kelopaknya perlahan gugur satu demi satu, mati dan membusuk.







